Suatu ketika ada seorang teman yang berkelakar ” Kalau mau minum susu kenapa harus beli sapi?”. Mendengar kelakar seperti itu aku ganti jawab “Tidak ada salahnya kan kalau aku beli sapi, karena aku ingin minum susu sesering mungkin”. Obrolan seperti itu terjadi pada saat kami membahas tentang sebuah pernikahan, dan pertanyaan yang dia ajukan sampai sebelum aku menempuh jalan hidupku sampai hari ini belum kutemukan keterkaitan antara ungkapan yang dia tanyakan dengan arti pernikahan itu sendiri. Saya coba memahami arti ungkapan itu setelah mengenal kebiasaan teman saya itu akhir-akhir ini. Dan ternyata apa yang dia ungkapkan hanya soal kebutuhan akan sex semata, dan kalau dapat saya artikan sebagai berikut, kalaupun ingin “main” kenapa tidak beli saja? kan tidak perlu menikah..
Dan saya anggap semoga saja pemikiran dia yang sempit itu hanya sebuah kelakar “guyon parikeno” saja dan bukan menjadi patokan dia dalam memilih jalan hidupnya. Dan beruntung sekali kelakar seperti itu juga menjadi penyegaran saya saja dalam bergaul. Karena hari ini pas satu bulan aku sudah menjalani hidup sebagai seorang suami. Sebuah keputusan yang paling sulit saya ambil dalam hidup ini. Banyak pertanyaan yang belum bisa terjawab dalam benak sebelum saya ambil keputusan untuk menikah. Mungkin pertanyaan yang sama yang dialami oleh kaum single, jomblo, atau entah apa lagi sebutannya.
“Bisa gak ya saya nanti mencintai istri saya?”
“Bisa gak ya saya nanti setia?”
“Bisa gak ya saya nanti tetap menjalani kehidupan seperti saat sebelum menikah?”
“Bisa gak ya saya nanti merawat dan mendidik anak?”
“Bisa gak ya saya nanti menjadi suami sekaligus ayah yang baik?”
“Bisa gak ya saya nanti menafkahi keluarga sampai tua?”
“Bagaimana dengan mertua?, bagaimana dengan saudara-saudaranya istri?, bagaimana dengan keluarga-keluarganya yang lain?”
Semua pertanyaan-pertanyaan seperti sebuah permainan bongkar pasang, yang mencoba dipasang-pasangkan, pas atau tidak. Atau mungkin pertanyaan-pertanyaan seperti itu hanya ada dalam pikiran saya saja ya… Dan mungkin itu yang membuat sampai umur sudah banyak begini baru menikah.
Banyak orang yang menemukan jodohnya hanya dalam satu atau dua kali pertemuan, bahkan belum pernah bertemu dan tiba-tiba dijodohkan oleh orang tuanya tetapi akhirnya bisa juga melewatinya dengan sukses sampai masa akhir hidupnya. Sedangkan saya….sudah berkenalan dan menjalani masa pacaran selama 7 tahun tetapi masih sulit juga memutuskan untuk menikah. Apa yang salah dengan diriku waktu itu?
Dan sekarang sudah satu bulan lamanya menjalani hidup sebagai seorang suami, seorang calon ayah. Apakah ini awal suatu perubahan dalam pola pikir saya dalam memandang hidup. Sebuah kekhawatiran yang dulu selalu menghantui adalah apakah manusia hanya menjalani sebuah siklus hidup yang itu-itu saja, Lahir, remaja, dewasa, punya istri, punya anak kemudian meninggal. Dan dalam porsinya kalau di kalkulasi kita akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk keluarga apalagi dengan kehadiran anak, terus kapan waktu buat saya sendiri, teman-teman saya, dan kapan waktu buat lingkungan saya, kapan saya bisa memberi arti untuk hidup ini. Atau mungkin itu hanya sebuah pemikiran saya yang sempit, atau memang dengan berkeluarga saya sudah memberi arti dalam hidup?
Apakah perubahan yang terjadi dalam hidupku ini akan membawa dampak yang lebih baik dalam perjalanannya nanti, ataukah malah sebaliknya?. Ataukah pembaca dalam tulisanku ini menganggap ada keraguanku dalam mengambil keputusanku untuk berubah ini?Tetapi terlepas dari semua itu saya telah melewati masa satu bulan dalam berumah tangga dan dalam hukum agama yang saya anut saya pun sudah berjanji untuk dapat melaksanakan janji itu sebagaimana mestinya. Dan sekarang besok maupun seterusnya saya akan berusaha menepati janji itu dengan tulus dan ikhlas.

Mas Adil. Maap nih sok tahu. Katanya, nikah itu ibadah. Jadi kalau nikah selain cihuy marihuy, juga banyak nimat ibadah yang bisa kita petik.
Maap… sok tau. Hehehe.
Setahu saya, kalau masih baru, berbagi pengalaman dengan sesama pria yang sama-sama sudah menikah juga baik. Bisa menimbang yang baik dan belajar dari pengalaman orang yang lain yang tidak perlu diulang.
Kata Gola Gong, ketika beliau menikah, Sebagai lelaki (yang doyan bertualang, jalan-jalan dan wanita) ia mati. Namun setelah menikah ia menjelma kembali. Menjadi seorang pria dewasa. Seorang ayah yang bahagia mempunyai anak-anak luar biasa.
Maap yaa saya sok tahu. BTW, Selamat menempuh hidup baru. Insya Allah sakinah mawaddah warahmah. Apapun artinya itu.Yang penting, keluarga barunya bahagia. Amiinn.
@arifkurniawan
terima kasih bang arif…sengaja saya belum menjawab komentar bang arif,,sebelum saya melalui proses berumah tangga ini. Dan sekarang saya baru bisa berkomentar bahwa menikah memang suatu ibadah yang harus dilalui oleh kaum lelaki, dan dalam 4 bulan ini saya bisa melaluinya dengan sukses walaupun masih terbayang “rasa” masa lalu. Tapi apakah pernikahan terasa hanya sebuah kewajiban semata…dan saya belum merasakan seperti kata gola gong itu.
maap kalo ony juga ikut masuk dalam blog ini.
ony stuju dengan mas arikurniawan.
MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya. Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya? Harus ada ‘Komunikasi Dua Arah’, ‘Ada kerelaan mendengar kritik’, ‘Ada keikhlasan meminta maaf’, ‘Ada ketulusan melupakan kesalahan, dan keberanian untuk mengemukakan pendapat’.
MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.
MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga.
Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang
hartanya berapa, bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung.
MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda. Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami orang lain…??
Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa
memperhatikan pasangan hidup…??
MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi,
toleransi sedalam samudra, serta jiwa besar untuk ‘Menerima’ dan ‘Memaafkan’
ok’s, met menempuh hidup baru ya, moga diberi kebahagiaan dunia akhirat, AMINNN…..
@ony
thanks guys….
komennya ampuh….tapi ngomong-ngomong bang ony apa juga udah siap-siap mau nikah atau jangan-jangan udah nikah…
ony lom menikah..
ternyata memilih pasangan hidup itu gampang-gampang susah. kalo hanya sekedar cari cewek buat pacaran sih aku rasa si minthulpun bisa. tapi masalahnya menikah itu untuk selamanya, sampai mati. Tul gak??
doain ony ya, moga cepetan nyusul, ato mungkin bisa bantu ony nyari yg mau diajak menikah