Malam ini kembali kami menikmati ramainya alun-alun Madiun sambil ditemani secangkir kopi panas dan tahu goreng. Kebetulan kami hanya berempat yang tidak seperti biasanya berlima bahkan bertujuh, karena yang tiga lagi asik di rumah dengan mainan barunya.
Inod, Minthul, Sugab dan saya malam ini lagi nyoba hotspot yang disediakan sama perusahaan telekomunikasi milik pemerintah ini, karena kemaren secara kebetulah pas lewat di jalan terpasang spanduk besar-besar dengan tulisan bahwa area alun-alun Madiun telah tersedia fasilitas hotspot gratis.
Seperti kucing yang disuguhi sama pindang , langsung deh kita berangkat dan tes…tes..
Connected….Alhamdulillah akhirnya konek juga dan yang penting tidak memerlukan waktu lama untuk tes googling. Sampai disini mau ngapain lagi…Ngopi dulu lah sambil menikmati Starmild biar yang lain pada nyoba-nyoba googling.
Tiba-tiba dari samping Minthul ketawa-ketawa sendiri sambil masih mengarahkan pandangannya ke laptop.
“Kenapa tul, kok ketawa sendiri” tanyaku penasaran.
“Ini lo mas..gak sengaja ngeklik kok munculnya gambar bokep” jawabya, masih sambil ketawa. Dasar..pikirku….gak sengaja dari Hongkong….Emang kamu aja yang lagi pengen buka situs gituan.
Saya lihat Sugab sama Inod masih terlihat asik mengobrol tentang sesuatu hal yang kayaknya menarik, mendekat.. ah…biar bisa ikut ngobrol sekalian.
“La iyo Nod…tetanggaku yang di desa itu punya sawah serta tanah yang luas, rumahnya banyak…pokoknya paling kaya…tapi anaknya kok ya sakit-sakitan terus, tapi aku kok dilahirkan sebagai orang biasa, kadang yo anyel” kata Sugab mengawali pembicaraannya dengan Inod.
“Yo iku bes..sekarang kalau kamu kaya raya tapi ususmu buntu terus dan gak bisa dibuka-buka, apa kamu mau?” jawab Inod meyakinkan Sugab.
“Itulah kalau Tuhan itu adil” jawabku menimpali pembicaraan mereka.
“Wew bisa-bisa kamu ditangkap polisi ngomong seperti itu, kemaren yang ngaku nabi saja dikejar-kejar sampai ketangkap trus anggota kelompoknya juga ditangkapi….eee..terus sekarang kamu kok ikut-ikutan ngaku Tuhan” jawab Minthul sekenanya sambil terus menikmati gambar-gambar syurnya.
“Woo…garangan…makanya jangan ikut ngobrol sambil lihat bokep, ya itu hasilnya” seru Sugab sambil menjitak kepala Minthul.
“Ha..ha..ha…iya tul Tuhan itu adil makanya ngasih kamu kelebihan.. ” jawabku sambil ngemil tahu goreng yang sudah agak dingin.
“Apa mas kelebihanku?..” tanya Minthul bersemangat.
“Kamu dikasih kelebihan searching gambar bokep secara cepat…..ha.ha.ha” kelakarku sekenanya.
“Garangan…” jawabnya, sambil kembali konsentrasi ke layar laptop.
“Tuhan memang adil,..buktinya…kita lihat saja negara Singapura yang kecil dengan hasil bumi yang terbatas, tapi merupakan negara kaya karena orang-orangnya yang mau bekerja keras, terus negara Brunei…walaupun SDM nya biasa-biasa saja dan sedikit tapi dianugrahi minyak bumi yang melimpah, kamu lihat juga Malaysia yang walaupun punya kelebihan dengan kebun-kebun kelapa sawit yang luas serta minyak tapi mereka juga punya kekurangan yaitu tidak punya orang untuk mengerjakan semua itu, makanya mereka mencari orang sampai ke negeri kita.” Aku coba menguraikan pandanganku tentang keadilan Tuhan.
“Wee…untuk yang terakhir itu bukan keadilan dong…wong Malaysia itu gak punya apa-apa kok, Negara ini serba kekurangan…buktinya sampai lagu daerah kita aja diklaim sebagai lagunya mereka..” jawab Inod yang mulai kritis.
“Ha..ha..ha…bisa aja kamu Nod….” kubalas dengan tertawa saja argumennya, tapi mungkin memang iya pikirku.
“Wah..tahunya habis nih…pesen lagi ya?” tanpa menunggu jawaban kami Sugab mendatangi penjual gorengan untuk memesan tahu goreng lagi dua piring. Gak terasa memang kalau sambil ngobrol gini sampai habis dua piring tahu goreng plus tiga batang Starmild.
Tiba-tiba dari samping kananku terlihat sekelompok orang mendatangi penjual kopi di sebelah, tapi bukan ibu itu yang didatangi melainkan anaknya. Dan tanpa babibu langsung saja sekelompok orang tadi memukuli anak penjual kopi itu dengan beringas, lalu dari belakang warung terlihat temennya mencoba membantu melerai perkelahian.
Tapi yang terjadi justru dia juga ikut dipukuli bahkan kali ini pakai helm…astaga ..apa salah dia…wong hanya melerai malah kena batunya. Si ibu yang melihat anaknya dipukuli beramai-ramai hanya bisa berteriak dan menangis sejadi-jadinya, dia begitu syok melihat darah bercucuran dari kepala anaknya. Lalu kami segera melipat laptop dan agak menyingkir sedikit agar tidak terkena lemparan batu dan lemparan bogem yang salah sasaran.
Hanya menyingkir….iya..kami hanya bisa menyingkir waktu itu karena memang tidak bisa berbuat apa-apa, karena tak berapa lama seorang polisi berpakaian dinas lengkap datang dan mencoba mendatangi perkelahian itu. Melihat ada seorang polisi yang datang, sekelompok orang tadi melarikan diri, semburat lari sendiri-sendiri, tapi apa yang dilakukan polisi…dia hanya berjalan cepat kearah salah seorang dari mereka seolah tanpa berniat menangkapnya.
Si petugas terus berjalan sampai menuju seberang alun-alun dan belum kembali-kembali, entah sudah berhasil mengejar atau belum, dan nasib dua orang korban yang dipukuli tadi…sepertinya sudah diamankan oleh temennya yang lain yang entah kapan datangnya sambil marah-marah dan mencaci. Kemudian saya lihat si ibu penjual kopi mulai merapikan perlengkapannya siap-siap mau pulang, padahal waktu masih sekitar jam 8 an. Mungkin dia tidak mau kelompok yang tadi kembali muncul dan kembali merusak dagangannya, makanya dia berpikiran lebih baik pulang daripada kena sasaran lagi.
Cerita yang saya denger dari penjual kopi yang saya beli ini bilang kalau itu adalah persoalan klasik yang biasa terjadi antar perguruan pencak silat di kota Madiun ini. Sekelompok orang yang main pukul tadi sebelumnya pernah dipukuli juga sama temen si anak penjual kopi, makanya mereka mencari keadilan…dan mereka memilih…cara itulah yang dianggap adil bagi mereka. Saya hanya manggut-manggut dan mengelus dada, kalau keadilan bagi mereka seperti ini, terus kapan bisa berakhirnya. Bukankah sudah ada lembaga peradilan yang lebih punya wewenang untuk mengurus ini, atau mereka sudah kepalang tanggung, atau sudah tidak percaya dengan lembaga ini?
Saya masih saja termenung sambil memikirkan kejadian tadi, dan terbesit dalam pikiran, seandainya saja keadilan Tuhan datang pada waktu itu juga dan mengadili orang-orang yang bersalah dengan bentuk apapun sesuai kuasaNYA maka tentu kita tidak butuh lembaga-lembaga yang dibentuk dengan alasan untuk menegakkan keadilan

Huehuehue…. Kanggggeeeeennn…
Pengen bisa join bareng disana lagi, seandainya bisaaa… Seneng rasanya bisa browsing2 sambil makan tahu petis, walopun orang yang ikut cuma itu2 aja, trus di tempat yang sederhana hanya dengan lesehan, tapi rasanya nyaman n enak bahkan lebih nyaman dibandingkan di hotel berbintang… Iya nggak Bro?!
Pertama kali nyoba koneksi aku kan masih ikut mas dengan ebez, walopun sekarang udah ga bisa lagi… hiks2.. kalo sendirian rasanya kangeen dengan semua yang ada disana palagi tawa canda kalian semua… Gimana2 :
1. Mess nya sekarang?? masih rajin bersih2 ga?
2. Serper masih aman kah?? udah ga sering troble kan?
3. Siapa yang rajin masak?? Minthul karo mas Doni paling… yang lainnya diragukannn!!! hehehe..
4. 2 bersaudara Lukaman n Saud masihkan jarang pulang?? di usir aja mas.. hehehe.. ga2 only just kiding, just 4 laugh, just ujan..
Pesenku :
Keep kompak selalu ya, jangan sampe ada perselisihan.. Karena kita semua adalah keluarga, ingat perjuangan kita semua mulai dari awal online sampe sekarang?? banyak kejadian yang kita lalui n jalani bersama mulai dari yang ga enak sampe bisa seperti sekarang .. Mungkin itu bisa jadi pemicu amarah kita.. Trus dijagain prima sama dwi.. jangan sampe di “sio-sio”… Oke.. Keep contact Bro!! I will always remember you all.. ^______~
@udee
brix….kalo kangen jangan cuma omong doang…samperin tuh temen2mu yang juga pada kangen di Madiun…
ayo…kapan kumpul2 lagi kesini…ntar tak ajak masak2 sama bersih2 mes(he..he..he)…gak kok..just kiding…yang pasti ntar tak suruh nraktir (yang ini serius)
Di tanyain mbak KAT loh…katanya masih ada kembalian yang belum kamu ambil….(he.he.he)
koq sik pancet yo mediun. coba cah cah kuwi lungo adoh / merantau ben ngerti nek ilmune kuwi gak onok apa apane. sik akeh wong pinter. kuwat ilmune. aku nek krungu crito ngene iki yo isin, ngguyu, kog energine dibuang buang cuman gae gelutan.
@djoko
laiyo kui….koyok mas djoko iki ya…merantau…kuat ilmune…wonge pinter…