“Bes…siapa yang belum ikut” tanya Mintul saat mau berangkat ke kantor.
“Saud lut…”, jawabku.
“Hmm..tetep ae mulek arek iku..” timpal Minthul sekenanya.
“Brak..brak..” nyaris berbarengan kami menutup pintu mobil APV. Mesin mobil pun dinyalakan sama Mintul, aku sibuk mbenahin sabuk pengaman. Tiba-tiba Mintul membuka lagi pintu mobilnya,
“Bentar bes…”, katanya. Kulihat Dia mendatangi seorang nenek penjual kacang klici (kacang tanah yang digoreng dan ada bawang gorengnya). Terdengar olehku pembicaraan mereka.
“Berapa mbah ini kacangnya”, tanya Mintul.
“Lima ribu dik satu renteng”, jawab si Nenek. Kulihat Mintul mengambil dompetnya dan mengeluarkan selembar uang 50ribuan.
“Satu aja mbah”, jawab Lutfi sambil menyerahkan uang tersebut. Si nenek menerimanya dan siap-siap mengambilkan kembaliannya kepada Mintul, dan tanpa menunggu lama..
“Udah nek kembaliannya untuk nenek saja”, jawab Lutfi ikhlas. Dan seolah tidak percaya si nenek kembali berkata..
“Loh ini loh dik kembaliannya”, jawab nenek kembali.
“Sampun nek, ambil saja kembaliannya buat nenek, ikhlas kok”, jawab Mintul tidak kalah ngototnya. Nenek itu terlihat menunduk sebentar, dan setelah mendongakkan kepalanya lagi terlihat si nenek menangis terharu dengan kejadian barusan.
“Terima kasih dik..semoga Gusti Allah membalas semua ini”
“Tak doakan semoga dapat rejeki banyak dan selalu dalam perlindunganNYA” ujar si nenek masih menangis sesenggukan karena terharu.
Aku terdiam menyaksikan kejadian barusan, walaupun sebenarnya bukan kali pertama aku menyaksikan Mintul memberi si nenek tersebut, tapi yang membuat kali ini agak beda adalah saat si nenek menangis terharu menerima pemberian uang itu. Mungkin bagiku, Mintul ataupun temen-temen satu rumah, uang segitu tidak ada artinya, dan mungkin bagi seorang nenek yang burumur 60an tahun lebih uang tersebut sangatlah berarti.
Dalam mobil perjalanan ke kantor kami hanya terdiam, aku tidak tahu apa yang dipikirkan Mintul, aku sendiri merasa bahwa masih ada kejadian seperti itu. Dan meminjam istilah Sujewo Tejo ,sembahyang untuk pagi itu adalah memberi sedekah yang tidak mampu.
====Dalam diam 15 Agustus 2008====

sebuah sentilan terutama buat saya pribadi.. betapa sering mata ini menjadi buta oleh selembar kertas yang dengan sedikit coretan Rp membuat kita serasa mampu memiliki segalanya..
sulit untuk memahami mengapa mata ini menjadi gelap, mulut diam terjait, hati keras membatu, telinga budeg dan bebal…
betapa panjang jejeran angka yang ingin kita miliki yang bahkan mungkin tidak mampu membuat kita menangis ketika gusti allah sudah menggelarnya di genggaman kita. betapa kita bahkan tidak mampu memahami ketika kita biasa melepas lembaran itu untuk sekedar sepiring makanan, telah membuat seseorang menangis terharu meski kita sendiri tidak mengerti apa yang membuat air mata itu menetes? nilainya kah?.. atau perasaan bahwa ternyata dia tidak sendiri?…
no body knows but herself
terima kasih untuk pelajaran yang berharga.. may god assist us on our right always.
Kita sering membicarakan tentang uang; bagaimana mendapatkan banyak uang, bagaimana mengatur pengeluaran, berapa yang ditabung, serta diinvestasikan di mana. Kita sibuk merencanakan, memikirkan, dan mengkhawatirkan uang yang kita miliki, sehingga seolah-olah uang adalah hal yang paling penting di dunia.
Uang memang penting dalam kehidupan, tanpa alat tukar ini kita tak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Uang membuat kita bisa melakukan banyak hal dibandingkan jika kita tak memilikinya. Tetapi sepenting-pentingnya uang, sebanyak apa pun pundi-pundi uang Anda, ada hal-hal yang tak bisa dibeli olehnya.
Misalnya: Kebahagiaan, Kesehatan dlsb.
Banyak orang yang kaya raya tapi sikapnya kasar dan ucapannya sinis. Tak sedikit orang sederhana yang tutur katanya sopan dan menunjukkan rasa hormat pada orang lain. Jadi, jumlah uang yang dimiliki bukan penentu sikap atau manner seseorang.
Lutfi kalau menurut saya adalah seseorang yang rendah hati dan mau memikirkan orang lain. Dan saya berharap kita sebagai rakyat Indonesia sangat meng-idam2kan bahwa di masa2 mendatang akan mempunyai para wakil2 rakyat (Anggota DPR) yang seperti Lutfi.
@H. Harry Indriato
Sepertinya pak Harry sedang gemas ya dengan kelakuan para anggota dewan yang TERHORMAT
? kalau mereka sih udah gak heran pak….walaupua tidak semuanya begitu. Saya sendiri berharap dengan kemunculan temen2 aktivis kampus dengan menjadi caleg dapat memberi warna lain di lembaga itu. Sehingga suatu saat kita bisa berbangga memiliki anggota dewan yang benar-benar TERHORMAT.
saya orang madiun. saya tinggal di jakarta. tapi saya ga gampang tersentuh jika di jakarta. tapi nenek-nenek bakul di madiun selalu membuat saya pengen menyayangi mereka semampu saya.