Tulisan ini memang tidak membahas siapa yang yang bakal menang dalam pemilihan walikota Madiun Oktober mendatang, atau rasan-rasan….yang biasanya dilakukan oleh bapak-bapak di sekitar kantor tentang siapa yang bakal memimpin kota Madiun berikutnya (bapak-bapak kok rasan-rasan…bukannya ibu-ibu.. ). Ini hanya postingan penggembira saja akan datangnya pesta demokrasi di Madiun. Sebagai warga asli Madiun yang mulai perhatian dengan calon mencalon walikotanya, eh siapa tahu banyak yang memperhatikan proses pemilihannya. Biar gak ada yang curang, licik, dan anarki pada waktu prosesnya, kenapa? karena banyak pengawas-pengawas independen (termasuk sampeyan yang baca tulisan ini) ikut mengawasi jalannya pemilihan nanti.
Tapi sempet ada kekhawatiran juga, itu loh soal pendekar-pendekar pencak silat Madiun yang konon selalu berantem jika bertemu dalam acara akbar. Bukan tidak mungkin beberapa cawali mencari dukungan dari salah satu perguruan pencak silat itu?yang akhirnya terjadi benturan kepentingan dan selanjutnya terjadi benturan-benturan yang lain…..ah semoga tidak.
Kembali ke pesta demokrasi, apa iya warga Madiun sudah siap berdemokrasi?apa iya negara ini cocok dengan demokrasi?apakah kondisi negara seperti ini yang ditelorkan sebuah demokrasi?atau jangan-jangan demokrasi hanyalah mitos belaka? ….halah kok tiba-tiba jadi bertanya-tanya terus, biar para politikus dan pemikir yang rasan-rasan soal mitos yang satu ini….hayooo yang lain jangan rasan-rasan soal THR loh….inget lagi puasa..
(Ditulis setelah membaca pernyataan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat)
