Lebih dari 1000 kios terbakar, dan lebih dari 1000 pedagang mengalami kerugian yang tidak sedikit. Apa yang tersisa dari sebuah peristiwa kebakaran Pasar besar Madiun? Bermacam masalah muncul, mulai dari penanganan pemadaman, aksi penjarahan sampai masalah relokasi sementara yang menjadi perdebatan sengit. Apa yang saya khawatirkan saat menulis ini ternyata tidak terjadi, justru peristiwa yang lebih besar terjadi pada saat pesta demokrasi warga Madiun.
Walaupun tidak sedikit warga Madiun yang ber opini buruk terhadap peristiwa itu, tapi kehidupan harus tetap jalan, kios-kios sementara harus tetap didirikan dan lokasi yang strategis agar tidak kehilangan pembeli harus menjadi pertimbangan dalam relokasi sementara. Seperti motto dan slogan-slogan yang saya temui di sepanjang sudut kota Madiun, “MADIUN BANGKIT”.
Madiun jangan lagi menangis, para pedagang pasar harus tetap bersatu, karena tidak menutup kemungkinan dengan kondisi seperti ini ada pihak yang memanfaatkan situasi demi kepentingan golongan tertentu. Para penentu kebijakan kota Madiun, tolong perhatikan kesulitan para pedagang, jangan sampai peristiwa yang sama terulang lagi, perbaiki sistem pemadam kebakaran, jangan sampai timbul penanganan yang berlarut-larut seolah-olah terjadi pembiaran pembakaran.
Nasib para pedagang pasar Madiun yang semakin terjepit dengan berdirinya supermarket-supermarket besar baru-baru ini jangan semakin dipersulit dengan lambannya pembangunan kembali pasar besar Madiun. Pasar yang dulu menjadi kebanggaan warga Madiun, panggon jujukan blonjo harus tetap berdiri, dan bagi lembaga terkait tolong juga awasi dan evaluasi pembangunan mini market dan supermarket yang semakin banyak, apakah sudah sesuai ketentuannya dari sisi persaingan usaha, jarak antar lokasi, dampak terhadap lingkungan sekitar dan lain-lain.
Saya dan mungkin sebagian besar warga Madiun senang dengan berdirinya banyak supermarket/mall, tapi kami juga senang jika keberadaan pasar tradisonal tetap dijaga, karena disinilah faktor riil penggerak ekonomi masyarakat Madiun.
(Dîrghâyuh sira sang rumengwa tuwi sang mamaca manulisa)
